Tampilkan postingan dengan label Dunia Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kerja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

Sepasang Kaca Mata Untuk Atasan


Bekerja sebagai karyawan di kantor mungkin memberi kenyamanan bagi sebagian besar orang. Tetapi, tanpa disadari, bekerja di kantor ternyata tak selamanya menguntungkan.


Menurut sebuah studi terbaru, bekerja di kantor yang mengadopsi konsep modern dapat memperburuk kualitas otak dan menurunkan produktivitas. Kantor modern dengan suasana yang ramai ternyata dapat menurunkan kualitas kesejahteraan pekerja hingga 32 persen dan menurunkan produktivitas hingga 15 persen.


Seperti yang terungkap dalam The Secret Life of Buildings, salah satu program yang ditayangkan di stasiun Channel 4, para ahli berpendapat bahwa konsep kantor tipe terbuka (open plan offices) yang banyak diadopsi saat ini justru merugikan karyawan. Kantor tipe seperti ini dapat memicu aktivitas yang tidak dikehendaki otak. Aktivitas yang “mengganggu” ini bisa muncul kapan saja saat karyawan menjalankan tugas.


Dalam acara televisi tersebut dibuktikan bagaimana karyawan yang bekerja di kantor tipe terbuka mengalami serangkaian gangguan/distraksi yang memecah konsentrasi. Presenter yang juga kritikus arsitektur Tom Dyckhoff menjalani sebuah tes dengan cara menggunakan topi khusus yang mengukur gelombang otak ketika ia bekerja di kantor tipe terbuka.


Kantor tipe open plan diperkenalkan pertama kalinya pada era 1950-an dan telah berkembang menjadi gaya perkantoran yang populer. Kantor ini didesain dengan harapan karyawan bisa bergerak dan berinteraksi secara bebas sehingga menjadi lebih kreatif dalam berpikir dan memecahkan masalah.


Saat saya menemani anak-anak untuk menonton film kesukaannya; Shaun The Sheep. Film tentang seekor domba yang diternakan oleh seorang petani bersama dengan domba-domba penghasil wol lainnya dan seekora anjing penjaga. Shaun adalah domba yang paling kecil, kurus dan kerempeng, sehingga bulu-bulu yang dihasilkannya sangat sedikit. Tapi shaun memiliki kecerdasan yang sangat tinggi dan juga hati yang jenih.


Suatu ketika sang petani kehilangan kacamatanya, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas. Karena penglihatannya yang terganggu, maka petani itu tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Semua yang dilakukannya menjadi salah, padahal tak seorang pun tinggal didaerah itu untuk membantunya melihat dengan lebih baik. Apa yang dilakukan oleh Shaun si domba kurus itu?


Shaun berpikir keras untuk menolong sang petani sampai akhirnya dia berhasil membuatkan sepasang kacamata untuk tuannya itu. Maka pada saat yang paling kritis, Shaun bisa membantunya untuk melihat lebih jelas, sehingga tuannya bisa kembali menjalankan tugas-tugas hariannya dengan baik.


Menyaksikan film itu saya menjadi teringat tentang kita. Khususnya yang memilih untuk menjadi karyawan professional. Petani itu bagaikan atasan yang menggembalakan, sedangkan para karyawan adalah domba-dombanya yang mereka jaga dan arahkan. Seperti petani itu, atasan kita tidak selamanya benar. Namun, disaat kita tahu atasan kita melakukan kekeliruan, apa yang kita lakukan? Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mengambil peran positif disaat atasan melakukan kesalahan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini: 


1.Berilah atasan Anda ruang untuk melakukan kesalahan.


Secara tidak langsung kita sering menuntut atasan untuk melakukan keajaiban. Salah satu keajaiban yang kita tuntut adalah; mereka tidak boleh salah. Jangan terlalu membanggakan atasan yang tidak pernah berbuat salah. Karena hanya ada 2 kemungkinan bagi mereka yang tidak pernah salah, yaitu; (i) tidak  melakukan apapun, atau (ii) tidak belajar sesuatu yang baru dalam hidupnya. Anda justru harus memberi ruang kepada atasan Anda untuk melakukan kesalahan konstruktif. Yaitu kesalahan yang dilakukannya dalam usaha untuk semakin mengembangkan teamnya, meraih pencapaian yang lebih tinggi, serta bereksperimen dengan hal-hal yang baru. Jika Anda menilai kesalahan atasan sebagai sesuatu yang tabu, maka atasan Anda juga tidak akan mengambil resiko untuk melakukan hal-hal besar. Mengapa? Karena atasan pun menginginkan penilaian yang baik dimata bawahannya.


2.Sadarilah bahwa kita pun bisa melakukan kesalahan yang sama.


Ketika atasan melakukan kesalahan, apa yang dilakukan oleh bawahan? Pada umumnya mereka menggunjingkan kesalahan atasannya di toilet atau di kantin-kantin. “Orang G0610K begitu kok diangkat jadi manager!” begitu ejekan yang sering kita dengar. Saya sudah cukup banyak menyaksikan fakta bahwa mereka yang dulunya sering mengkritik atasannya tentang cara memimpin ternyata juga tidak hebat-hebat amat ketika kebagian giliran dirinya yang mengambil tampuk kepemimpinan. Terimalah kenyataan bahwa kita ini manusia biasa. Selama tidak melanggar integritas, maka wajar jika melakukan kesalahan. Oleh sebab itu setiap kali menemukan atasan kita melakukan kesalahan, maka sebelum memakinya dalam hati atau mentertawakannya dibelakang mereka; mawas dirilah terlebih dahulu. Bukankah kita juga bisa melakukan kesalahan yang sama?


3. Sadarilah bahwa kita ada untuk menjadi penolong bagi atasan.


Setiap bawahan itu ada untuk menolong atasan menyelesaikan tugas-tugasnya dalam mencapai business objective-nya. Ini yang sering tidak disadari oleh para bawahan. Padahal, tidak butuh mengerti tentang Balance Score Card dulu untuk memahami hal ini. Kinerja semua orang dalam organisasi saling mempengaruhi satu sama lain. Apalagi antara atasan dengan bawahan. Makanya strategic objective setiap atasan selalu diturunkan kepada bawahannya, bukan malah sebaliknya. Dari presiden direktur ke para direktur, lalu manager dan kemudian staffnya masing-masing. Dengan begitu akan ada keselarasan antara apa yang dikerjakan oleh atasan dan bawahan dengan porsinya masing-masing. Jika para atasan itu bisa melakukan semuanya sendiri maka dia tidak butuh bawahan. Itu artinya posisi yang kita pegang itu tidak perlu ada. Mengapa sekarang jadi ada? Karena para atasan membutuhkan seseorang yang membantunya untuk mentjapai boesiness obdjective mereka. Hal itu berarti bahwa setiap bawahan yang tidak bisa memainkan perannya, tidak cocok untuk diberi kepercayaan itu.


4. Fahamilah bahwa atasan membutuhkan kita untuk melihat lebih jernih.


Banyak bawahan yang bisanya hanya mengkritik atasan tanpa bisa berkontribusi pada perbaikan. Jika sikap itu dibumbui oleh rasa iri atau tidak suka, maka kemudian akan berkembang kepada kasak-kusuk untuk menjatuhkan. Apa yang dilakukan oleh Shaun? Dia tidak mentertawakan atasannya yang berkelahi dengan orang-orangan sawah  karena kelamuran pandangan tuannya itu membuat dia mengira ada yang hendak mencuri dombanya. Shaun ‘melerai’ perkelahian itu. Ketika tuannya keliru menggunting tumpukan jerami yang dikiranya wol domba yang sudah siap dicukur, Shaun berpikir keras; bagaimana caranya membuat sang tuan kembali dapat melihat dengan lebih baik? Ketika dia berhasil mendapatkan kacamata itu, maka dia memasangkannya dimata tuannya. Maka seketika itu pula sang petani bisa melihat dengan jernah apa yang sesungguhnya terjadi di tanah pertaniannya. Semuanya berjalan lancar setelah itu. Bisakah kita membantu atasan untuk melihat lebih jernih?


5. Posisikanlah diri Anda sebagai pemberi solusi.


Mencari masalah itu gampang. Bahkan tanpa dicari pun masalah mah pasti datang. Kalau kita hanya bisa menambah masalah, maka sebenarnya kita merupakan bagian dari masalah itu sendiri. Saat seseorang membuang masalah itu, maka bisa jadi kita pun harus ikut dibuang juga. Mencari solusi, itulah yang memiliki nilai seni. Hanya sedikit orang yang bisa melakukannya, sehingga orang-orang yang berfokus kepada upaya untuk memberikan solusi masih termasuk mahluk langka.
Seperti hukum supply dan demand, harga orang-orang yang bisa memberikan solusi ini sangat tinggi sekali. Makanya, aneh sekali jika kita ingin dibayar lebih tinggi tetapi tidak memposisikan diri sebagai pemberi solusi. “Be the part of the solution, not the problem.” Begitu nasihat guru management saya. Saya berani bersaksi jika nasihat itu benar. Karena saya sendiri pernah mempraktekannya. Dan hasilnya? Hmm, Anda buktikan saja sendiri. Berfokuslah untuk memberikan solusi, maka Anda akan merasakan sendiri bagaimana keajaiban karir dan penghasilan mendatangi Anda.
Jika Anda melihat kesalahan para atasan. Tetaplah bersikap positif terhadap kesalahan atasan Anda, dan berfokuslah untuk berkontribusi dalam melakukan perbaikan.Toh suatu saat nanti boleh jadi Anda pun akan menjadi seorang atasan. Apalagi jika saat ini Anda juga sudah punya anak buah. 

Boleh jadi, kekurangan yang Anda lihat pada atasan Anda itu sesungguhnya adalah kelemahan Anda sendiri dimata anak buah Anda. Tidak zaman lagi untuk terus berusaha melihat semut diseberang lautan, sambil mengabaikan gajah yang melambai-lambaikan belalainya persis dimuka kita sendiri. Berhentilah menilai atasan secara negatif. Dan mulailah mempraktekkan ke-5 uraian diatas, sekarang juga.

Karier dan Hidup Sehat

Bekerja sebagai karyawan di kantor mungkin memberi kenyamanan bagi sebagian besar orang. Tetapi, tanpa disadari, bekerja di kantor ternyata tak selamanya menguntungkan.

Menurut sebuah studi terbaru, bekerja di kantor yang mengadopsi konsep modern dapat memperburuk kualitas otak dan menurunkan produktivitas. Kantor modern dengan suasana yang ramai ternyata dapat menurunkan kualitas kesejahteraan pekerja hingga 32 persen dan menurunkan produktivitas hingga 15 persen.

Seperti yang terungkap dalam The Secret Life of Buildings, salah satu program yang ditayangkan di stasiun Channel 4, para ahli berpendapat bahwa konsep kantor tipe terbuka (open plan offices) yang banyak diadopsi saat ini justru merugikan karyawan. Kantor tipe seperti ini dapat memicu aktivitas yang tidak dikehendaki otak. Aktivitas yang “mengganggu” ini bisa muncul kapan saja saat karyawan menjalankan tugas.

Dalam acara televisi tersebut dibuktikan bagaimana karyawan yang bekerja di kantor tipe terbuka mengalami serangkaian gangguan/distraksi yang memecah konsentrasi. Presenter yang juga kritikus arsitektur Tom Dyckhoff menjalani sebuah tes dengan cara menggunakan topi khusus yang mengukur gelombang otak ketika ia bekerja di kantor tipe terbuka.

Kantor tipe open plan diperkenalkan pertama kalinya pada era 1950-an dan telah berkembang menjadi gaya perkantoran yang populer. Kantor ini didesain dengan harapan karyawan bisa bergerak dan berinteraksi secara bebas sehingga menjadi lebih kreatif dalam berpikir dan memecahkan masalah.

“Tetapi, buktinya tidak seperti itu. Jika Anda sedang bekerja dan mendengar suara telepon di belakang, hal itu membuat konsentrasi Anda buyar. Meski Anda tidak sadar pada saat itu, tetapi otak tetap memberikan respons terhadap distraksi,” ungkap Dr Jack Lewis, ahli saraf yang menggagas tes tersebut.

Kantor-kantor bergaya modern, yang tidak mengizinkan dekorasi barang pribadi atau adanya tembok atau meja-meja, justru tidak membantu karyawan.

Dr Craig Knight, psikolog dari Exeter University, mengatakan, kebebasan yang diberikan kepada karyawan untuk mendekorasi atau merancang ruangannya secara pribadi dapat meningkatkan kinerjanya di kantor.


Perusahaan-perusahaan menyukai usulan memberikan ruang kecil untuk karyawan bekerja dan semuanya seragam tanpa adanya embel-embel yang tidak perlu. 

“Namun, dalam percobaan yang kami lakukan, para karyawan memberi respons yang lebih baik pada ruang yang telah ditambahkan dengan gambar-gambar dan tanaman.

Jika mereka diberi kebebasan untuk mendekorasi ruangannya dengan barang mereka sendiri, itu akan meningkatkan kesejahteraan mereka hingga 32 persen dan produktivitas hingga 15 persen,” terang Knight.Hal ini, lanjutnya, disebabkan karena mereka dapat melebur dengan lingkungan sekitarnya, merasa lebih nyaman, dan lebih berkonsentrasi.


 
Untuk menjaga kondisi tubuh tetap sehat dikantor karyawan dapat melakukan olah raga ringan dikantor, untuk mengendurkan otot-otot yang kencang didaerah leher, tengkuk dan punggung atas, olah raga yang singat dan ringan dapat sangat membantu karyawan untuk kembali pada pekerjaan dengan konsentrasi yang lebih baik sehingga kualitas pekerjaanpun tetap terjaga.